Skip to main content

Apa dampaknya ketika seorang anak di bandingkan dengan anak lain?

  Oke, aku menganggap ini merupakan sebuah masalah. Kenapa masalah? Karena tema yang aku angkat disini sangat krusial terhadap kehidupan aku dan adik-adik aku. 

(cerita) 
     Aku berasal dari keluarga yang biasa saja, aku anak pertama dari lima bersaudara. Orang jaman dulu bilang "banyak anak banyak rezeki" (aamiin). Tapi, jika kehidupannya dalam dunia pendidikan lanjut ke tingkat tinggi, sehat dan moralnya baik (menurutku). Karena kesuksesan seseorang itu juga dilihat dari bagaimana didikan seorang anak selama hidupnya. Dengan begitu keluarga akan sejahtera. Mamahku selalu membandingkan anak-anaknya dengan anak lain. Misal, anaknya tidak mau makan sayur, di bandingkan dengan anak tetangga sebelah yang rajin makan sayur. Lalu, anaknya tidak terlalu pintar atau tidak rajin belajar dibandingkan dengan anak tetangga yang selalu rangking dan dapat hadiah dari sekolah, dll. 

      Keinginan kami sebagai anak, kami ingin dirangkul bukan dibandingkan, kami ingin diarahkan bukan dibandingkan, tanya kami apa mau dan bakat kami,  cari solusinya, berfikir bagaimana caranya agar anak saya bisa seperti orang lain, jangan terus membandingkan anaknya sendiri tanpa ada inovasi untuk mengubah anak-anaknya menjadi lebih baik, menjadi apa yang mamah mau. 

   Dari situ, kami sebagai anak akhirnya mempunyai sifat-sifat yang kurang baik, dan kami mengeluh atas apa yang mamah lakukan. Pernah aku berkata ke mamah untuk tidak membandingkan kami lagi dengan orang lain, tapi beliau mempunyai jawabannya sendiri "agar anak-anaknya termotivasi dengan yang dilakukan orang lain". Mungkin ada benarnya sedikit, tapi kami lebih menerimanya sebagai ketidakgunaannya kami sebagai anak karena terlalu sering di bandingkan. Menurutku, anak akan berubah jika didalam dirinya ditanamkan hal-hal yang baik sejak kecil, lingkungan temannya baik, didikannya baik, memberi contoh yang baik dan berfikir bagaimana caranya agar anaknya bisa seperti apa yang beliau harapkan. 

     Lalu, saya mencari tahu di internet, wajar tidak perlakuan seorang ibu membandingkan kekurangan anaknya dengan anak lain yang lebih baik? Ternyata, aku mendapatkan ada "8 Dampak Negatif yang ditimbulkan dari membandingkan anak sendiri dengan anak lain" (TheAsianParent) diantaranya:

1. Stress, yup ini yang terjadi, aku pribadi merasakannya, aku merasa terbebani dan gelisah ketika mamah membandingkan aku. 

2. Merasa Rendah Diri, hal ini membuatku berfikir bahwa aku tidak lebih baik dari anak lain yang mamah bandingkan dan akhirnya aku menyalahkan diri sendiri. 

3. Menghindari keramaian atau interaksi sosialnya kurang, betul banget. Dominan dari kami sebagai anak mamah, terutama aku sangat tertutup (introvert) karena malu, karena merasa tidak berguna, karena merasa aku yang selalu salah. Dan akhirnya ruang lingkup pertemanan menjadi sedikit dan dalam berkomunikasi dengan orang lain kurang baik. 

4. Sikap acuh tak acuh, iya aku selalu seperti itu. Bahkan jika tetangga ada acara atau hal lain dan kegiatan yang ada di lingkungan, seperti tidak mau ikut campur, dan lebih nyaman sendirian di rumah. 

5. Bakat yang ditekan hingga menghilang. Aku berfikir bahwa jika ingin anaknya sukses lebih cepat, maka bakat atau passion anak itu harus didukung, selama itu positif. Maka tidak perlu membuang-buang waktu sampai merasa menyesal di kemudian hari ketika menyadarinya di detik terakhir. 

6. Menilai diri dengan rendah, sama seperti tadi, aku menjadi kehilangan kepercayaan diri dan selalu merasa tidak berguna di dunia ini. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku bisa dengan talenta yang aku miliki, aku mungkin tidak pintar dalam matematika dan  menghafal, tapi aku bisa jika aku diarahkan dalam hal yang aku suka. Misal, aku suka bahasa inggris, dari dulu tidak pernah les dan kuliah jurusan inggris, semuanya aku lakukan otodidiak. Tapi alhamdulilah aku bisa mempelajarinya dan mengerti walaupun tidak 100%, tapi itu sebuah mencapaian yang luar biasa bagiku. 

7. Menjauh dari orang tua, ini fakta. Karena, memang kami dari awal bukan keluarga yang harmonis, setiap masalah kami pendam dan cari solusi sendiri. Tidak pernah kami curhat tentang kehidupan sekolah maupun pribadi kami, bahkan jika hari idul fitri tiba pun kami tidak pernah sungkem melainkan hanya salam biasa saja. Last but not least, 

8. Persaingan antar saudara. Saudara diaini bukan hanya saudara sekandung tapi saudara/orang lain yang selalu dibandingkan dengan saya sebagai anak dan orang lain yang lebih baik prestasinya dari saya sebagai anak.

      Maka dari itu, aku sebagai seorang anak wanita yang nantinya menjadi seorang ibu, selalu meyakinkan pada diri sendiri untuk menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak dan menjadi istri yang solehah untuk suami. Dalam kasus penyakit, bukan hanya dari fisik saja, melainkan mental pun ada, dan itu sangat berpengaruh pada pikiran, hati dan fisik kita juga.  Aku tidak membenci mamahku karena ini, hanya sesekali ketika mamah membandingkan aku (kami)  selalu timbul rasa kesal pada saat itu terjadi. 

Comments